hi semuanya..
ana ingin sedikit berbagi apa yang ana rasakan beberapa minggu terakhir di awal semester 7 ini.
tidak terasa, udah nginjakkin kaki di semester 7. tujuh.. waw, udah jadi angkatan paling tua di kampus. udah semakin jarang ke kampus daaaaan harus menempuh satu mata kuliah yang paling ana ragukan sejak masuk ke dunia fkip. yapz, bener, PPL. sumpah beneran pengen mundur saat memang harus ngikutin PPL kemarin. beneran pengen gak mau ngelanjutin studi di fkip kalo inget harus PPL. tapi itu gak mungkin,, kalo emang bener terjadi.. its mean, sama aja kalo ana ngabisi uang mamak untuk hal yang sia-sia selama 3 tahun ke belakang ini.
hal yang paling memberatkan ana untuk PPL adalah kondisi fisik ana. kondisi fisik ini yang membuat ana bertanya pada diri sendiri, apakah pantas menjadi seorang guru? apakah layak ana menjadi seorang guru? sama seperti saat pertama kali kuliah di fkip matematika. beratttt,, apakah pantas orang sepertiku menjadi mahasiswa sebagai calon guru. bicara ku saja kadang tak jelas, bagaimana mungkin seorang yang seperti aku bisa memberikan ilmu dengan suara yang begini..
baru nulis segini aja,, air mataku sudah berlinang. ah lemahnya diriku...
untuk masalah fisik yang lainnya tak membuat ku minder untuk PPL, tapi untuk bibir ku ini... aku ingin menangis dan berteriak..
saat aku tahu, PPLku ditempatkan di sekolah menengah pertama yang lumayan bagus di kota palembang, hatiku bertambah dag dug. siapkah aku menghadapi celoteh, sikap, dan tingkah anak yang baru beranjak itu? aku kembali ingin berteriak,, ingin menangis, ingin mempercepat waktu agarr PPL ini cepat berakhir.
saat pelepasan PPL. semangatku membuncah, di satu sisi begitu menyenangkannya berinteraksi dengan siswa.. berbagi ilmu, dan banyak hal yang bisa dilakukan dengan mereka.. namun di satu sisi yang lain.. aku takut. aku takut akan .... yah kalian tahu sendiri lah bagaimana anak-anak zaman sekarang. jangankan zaman sekarang, zaman dulu saja aku sudah banyak dihina oleh temen-temen seusiaku. sudah bertahun-tahun aku biasa dibegenikan tapi ntah kenapa hati belum kebal menerimanya.
saat penerimaan kami di SMP tersebut.. dengan sebuah semangat yang terbilang dipaksakan aku berusaha terus untuk tersenyum dan bersikap aku sama kok dengan yang lainnya. walau aku tak tahu apa yang ada benak mereka. tapi ku yakin temen2 PPL ku di smp ini sudah dewasa semua.
hem.. sampai ketika kami menyalami guru-guru disana daaan tiba di ibu itu, dengan tatapan yang tak biasa beliau melihatku. tak bisa ku tebak apa yang sedang ia pikirkan,, sejenak aku terdiam dan lagi-lagi aku sangat berusaha untuk selalu tersenyum. perang dalam batinku berkecamuk. aku ingin berlari pulang tapi tak mungkin. aku sudah memulai dan aku harus berani mengakhrinya dengan indah.
satu minggu telah berlalu..
aku tetap begini...
aku tetap punya kekurangan ini
aku takut dengan tatapan mereka, senyuman aneh mereka, tertawa kecil mereka ketika melihatku, ah,, seandainya aku sama seperti yang lain. mungkinkah perasaan kami akan sama? mungkinkah aku lebih kuat dari aku yang sekarang?
ah.. ntahlah.
sampai saat ini,, semua berjalan dengan baik, dibaik-baikkan lah..
dan batinku masih seperti kemarin, berkecamuk..
ini semua memang sudah takdirku? atau aku yang terlalu memaksakan keadaan.
Selasa, 27 September 2011
Rabu, 03 Agustus 2011
Anak Kecil Berbaju Gonzales
hei, udah lama nih nggak ngeblog.
ntah knp si ide ni pada kabur semua, males tu makanya si ide jadi kabur. :D
tapi kali nih dicoba lagi deh untuk berbagi lagi di sini.
heeem, gak terasa nih udah masuk di bulan Ramadhan. Ini hari ketiga menjalankan ibadah puasa. Seperti yang kita ketahui dan kita jalani setiap malamnya di bulan Ramadhan. Itu tuh sholat sunnah yang dilakuin berjama'ah di masjid sesudah berbuka puasa.
yupzz, tarawih. Pinter banget sih kamu. *unyu unyu.. #lebay.
trus apa donk yang mau diceritain nih?
semalam, Ana tarawih seperti biasa di masjid Ar-Rahman.
dengan sigap setelah sholat magribh, Ana dan keluarga berbondong-bondong ke masjid. hoho.. alahhh berbondong-bondong *bahasanyee. Dengan sigap Ana ngambil di posisi shaf paling depan. Malam ini masjid terisi penuh, shaf ikhwan udah sampe belakang, shat akhwat juga udah sampe belakang, walau masih ada dikit-dikit yang masih belum terisi. Dan seperti biasa pula, kebanyakan jama'ah masjid itu adalah anak-anak dan para orang tua yang bisa di bilang sih udah berumur. Lho kemana si para remaja? ada sih tapi sedikit banget.
Kemana mereka?
adu duh, lagi pada "libur" semua kali y? eh kalo remaja cowok? meliburkan diri sepertinya. Gimana sih, kok kalah sama anak-anak.
salah satu yang menarik perhatian saya adalah satu anak berbaju pesepak bola Gonzales tapi celananya piyama tidur. #nggak mecing adek. hehe...
Awalnya gak ada yang aneh sih dari adek itu.
Saat sebelum adzan isya' dikumandangkan ia masih bermain-main dengan teman sebayanya, kemudian sholat isya berjama'ah.. Nah ketika kultum, si adek berbaju gonzales itu mulai tertidur sambil duduk. kebetulan ia duduk di shaf paling belakang. sehingga ia bisa menyender di hijab. kasian si adek, ky'ny capek bener. tidurnya nyenyak sekali. Dibangunin temennya tapi ttp tidurr dengan posisi duduk.. zzztt.. alhasil sepanjang kultum, sholat tarawih ia hanya tertidur. *gak patut dicontoh sih, tapi namanya juga anak-anak. masih belum mengerti.
nah,, anak kecil saja bersemangat banget pergi ke masjid untuk sholat berjama'ah. walau akhirnya mereka banyak mainnya. yang penting niatnya donk! kalah nih si remaja. yang niat aja udah nggak punya.
hm.. ayo donk para remaja Islam Indonesia. Ibadah ini pahalanya untuk kita kok! Rugi loh, apalagi Ramadhan ini pahalanya guede loh!
^__^
ntah knp si ide ni pada kabur semua, males tu makanya si ide jadi kabur. :D
tapi kali nih dicoba lagi deh untuk berbagi lagi di sini.
heeem, gak terasa nih udah masuk di bulan Ramadhan. Ini hari ketiga menjalankan ibadah puasa. Seperti yang kita ketahui dan kita jalani setiap malamnya di bulan Ramadhan. Itu tuh sholat sunnah yang dilakuin berjama'ah di masjid sesudah berbuka puasa.
yupzz, tarawih. Pinter banget sih kamu. *unyu unyu.. #lebay.
trus apa donk yang mau diceritain nih?
semalam, Ana tarawih seperti biasa di masjid Ar-Rahman.
dengan sigap setelah sholat magribh, Ana dan keluarga berbondong-bondong ke masjid. hoho.. alahhh berbondong-bondong *bahasanyee. Dengan sigap Ana ngambil di posisi shaf paling depan. Malam ini masjid terisi penuh, shaf ikhwan udah sampe belakang, shat akhwat juga udah sampe belakang, walau masih ada dikit-dikit yang masih belum terisi. Dan seperti biasa pula, kebanyakan jama'ah masjid itu adalah anak-anak dan para orang tua yang bisa di bilang sih udah berumur. Lho kemana si para remaja? ada sih tapi sedikit banget.
Kemana mereka?
adu duh, lagi pada "libur" semua kali y? eh kalo remaja cowok? meliburkan diri sepertinya. Gimana sih, kok kalah sama anak-anak.
salah satu yang menarik perhatian saya adalah satu anak berbaju pesepak bola Gonzales tapi celananya piyama tidur. #nggak mecing adek. hehe...
Awalnya gak ada yang aneh sih dari adek itu.
Saat sebelum adzan isya' dikumandangkan ia masih bermain-main dengan teman sebayanya, kemudian sholat isya berjama'ah.. Nah ketika kultum, si adek berbaju gonzales itu mulai tertidur sambil duduk. kebetulan ia duduk di shaf paling belakang. sehingga ia bisa menyender di hijab. kasian si adek, ky'ny capek bener. tidurnya nyenyak sekali. Dibangunin temennya tapi ttp tidurr dengan posisi duduk.. zzztt.. alhasil sepanjang kultum, sholat tarawih ia hanya tertidur. *gak patut dicontoh sih, tapi namanya juga anak-anak. masih belum mengerti.
nah,, anak kecil saja bersemangat banget pergi ke masjid untuk sholat berjama'ah. walau akhirnya mereka banyak mainnya. yang penting niatnya donk! kalah nih si remaja. yang niat aja udah nggak punya.
hm.. ayo donk para remaja Islam Indonesia. Ibadah ini pahalanya untuk kita kok! Rugi loh, apalagi Ramadhan ini pahalanya guede loh!
^__^
Rabu, 06 Juli 2011
Cinta pertama atau hanya mengagumi ya??
ana_mahebe231090
Ini kisah cinta pertama ku namun bukan pacar pertama ku…
Bunga-bunga cinta itu mulai menghampiriku ketika aku duduk di kelas X SMA. Mungkin memang terlihat sangat telat ya.. di umur segitu baru merasakan bunga-bunga cinta.
Ah itu cinta monyet, untuk apa ku pikirkan lagi…Tapi akhir-akhir ini Ia mengusik pikiranku.
Kisah ini berawal ketika aku mengikuti les tambahan di luar sekolah, sebut saja tempat les tambahannya adalah “GIGA”. Disana diriku bertemu dengan teman-teman dari berbagai sekolah.
“Tak ada dari sekolah yang sama denganku”, gumanku…
Seiring waktu diriku merasakan kenyaman dengan suasana tempat lesku ditambah teman-teman yang menyenangkan dan pintar-pintar. Perhatianku tertuju pada seorang anak laki-laki. Raut mukanya tak ganteng tapi manis karena kulitnya yang tak putih itu. Badannya kurus dan tinggi. Sepintas mirip ayahku. Maklum, sejak kelas 1 SMP , ayahku meninggal dan lama tak melihat wajahnya…. Karena kemiripan wajahnya dengan ayahku, aku pun sering mencuri pandang demi hanya untuk membayangkan kalau aku sedang melihat ayah. (jadi kangen ayah…)
Dari hanya sekedar melihat wajahnya, aku pun mulai mengaguminya. Ntahlah, dulu yang terpikirkan hanya mengagumi bukan mencintai atau menyayangi. Aku mengagumi kepintarannya. Namun semua itu hanya ku simpan dalam hati tanpa ada yang mengetahui.
Sampai pada suatu ketika, aku pun tahu ia bersekolah dimana. Ia ternyata satu sekolah denganku. (haha.. kebanyakan kelas si di sekolah ku itu.. kelas X nya ada 9 kelas). Aku agak kaget dan agak sedikit senang. Wah,,, bakal sering ketemu donk kalo satu sekolah.
Saat upacara bendera, waktu itu kelas dia yang menjadi petugas. Ia jadi pembaca do’a. Ku pikir biasa saja seperti petugas-petugas lainnya. Namun ternyata tidak, suaranya merdu kali. Ia fasih dalam melafazkan doa-doa itu. Aku makin kagum dengannya, manis, tinggi, pintar, dan alim.
Waktu terus berlalu, aku dan dia menjadi lebih dekat karena setiap hari bertemu di sekolah dan sorenya bertemu di tempat les. Makin bersemangat untuk les saat itu. Hahaha…
Saat kelas X itu aku sering bercerita tentang perasaanku pada teman sebangkuku.. namanya Remipa. Ia berucap “ku doakan nanti kelas 2 kalian satu kelas”. Waw… itu pun menjadi kenyataan, aku dan dia berada satu kelas saat kelas 2. (apa ini takdirNya? Pikirku senang).
Tapi,,, dibalik kesenangan itu ada juga keresahan, bukan hanya dengan dia, namun teman sekelasku adalah juara-juara dari kelas lain. Aku pesimis apa bisa mempertahankan prestasiku.
Hari demi hari terlewati, ternyata biasa saja sekelas dengan dia. Aku menjadi lebih kaku dalam bersikap (padahal semestinya biasa saja toh dia juga tidak tahu), aku menjadi lebih tertutup. Satu per satu kejelekannya yang terlihat dimataku. Namun anehnya aku masih saja memikirkannya.
Kenaikan kelas 3 aku berdoa agar tak lagi sekelas dengan dia. Yupz,, kami pun terpisah, namun terpisah itu malah bikin lebih dekat dari kelas 2 itu. Aneh… makin aneh. Makin terpelihara saja perasaan itu, padahal aku ingin membuang perasaan itu sejak aku tahu ia ada hati dengan teman sekelasnya waktu kelas X dan terus sampai kelas 3 itu. Yah,., aku merasa ingin tahu diri. Aku pun mulai berubah dan dingin setiap bercakap dengan dia. Dia makin jahil membuat aku tertawa. Aku pasrah dan membiarkan perasaan itu hilang bersama waktu. Namun saat ulang tahunnya di desember 2008 itu aku memberanikan diri memberikannya kado ulang tahun. Aneh pasti menurutnya kenapa tiba-tiba memberi ia kado. Aku membiarkan ia berpikir macam-macam hingga kini….
Kami pun menyelesaikan pendidikan menengah kami dan berlanjut di perguruan tinggi masing-masing. Aku melanjutkan ke universitas negeri di kota Palembang ini dan ia melanjutkan studi dengan merantau ke Jakarta, ke salah satu sekolah tinggi yang difavoritkan. Yah…. Anak pintar memang…
Akhir-akhir ini aku sering mengirim pesan singkat “berisi kata-kata mutiara” kepada beberapa kontak di hpku. Termasuklah ia.. aku mengirimkan pesan dari nomor tidak diketahui umum. Sampai suatu ketika.. ia membalas smsku itu. “ini siapa y?”. dan tak ku balas karena ku anggap untuk apa ia tahu siapa pengirimnya, toh pengirimnya tidak menuntut balasan. Tapi beberapa saat kemudian ia sms lagi, kurang lebih ia berkata “percuma isi smsnya baik-baik tapi pengirimnya pengecut”. Waw… aku sangat kaget ia seorang yang ku kagumi bisa berkata seperti itu. Akhirnya aku pun membalas, “Ya maaf, ini RIZKY OKTARIANA (nama lengkapku)”. Ku kira masalahnya selesai dan cukup sampai disitu sampai aku tahu perteman kami di facebook sudah tak ada lagi. Facebook ku di blok oleh nya. (dalam hatiku bertanya, benarkah yang kulihat ini? Sebesar apa salah ku pada dirinya?)
Ah,, cinta monyet yang masih terjaga sampai saat ini. Walau aku tahu, tak kan mungkin! Yang ku mau saat ini hanya hubungan silaturahmi yang baik dengan dirinya. Bukan seperti yang ada saat ini….
Ini kisah cinta pertama ku namun bukan pacar pertama ku…
Bunga-bunga cinta itu mulai menghampiriku ketika aku duduk di kelas X SMA. Mungkin memang terlihat sangat telat ya.. di umur segitu baru merasakan bunga-bunga cinta.
Ah itu cinta monyet, untuk apa ku pikirkan lagi…Tapi akhir-akhir ini Ia mengusik pikiranku.
Kisah ini berawal ketika aku mengikuti les tambahan di luar sekolah, sebut saja tempat les tambahannya adalah “GIGA”. Disana diriku bertemu dengan teman-teman dari berbagai sekolah.
“Tak ada dari sekolah yang sama denganku”, gumanku…
Seiring waktu diriku merasakan kenyaman dengan suasana tempat lesku ditambah teman-teman yang menyenangkan dan pintar-pintar. Perhatianku tertuju pada seorang anak laki-laki. Raut mukanya tak ganteng tapi manis karena kulitnya yang tak putih itu. Badannya kurus dan tinggi. Sepintas mirip ayahku. Maklum, sejak kelas 1 SMP , ayahku meninggal dan lama tak melihat wajahnya…. Karena kemiripan wajahnya dengan ayahku, aku pun sering mencuri pandang demi hanya untuk membayangkan kalau aku sedang melihat ayah. (jadi kangen ayah…)
Dari hanya sekedar melihat wajahnya, aku pun mulai mengaguminya. Ntahlah, dulu yang terpikirkan hanya mengagumi bukan mencintai atau menyayangi. Aku mengagumi kepintarannya. Namun semua itu hanya ku simpan dalam hati tanpa ada yang mengetahui.
Sampai pada suatu ketika, aku pun tahu ia bersekolah dimana. Ia ternyata satu sekolah denganku. (haha.. kebanyakan kelas si di sekolah ku itu.. kelas X nya ada 9 kelas). Aku agak kaget dan agak sedikit senang. Wah,,, bakal sering ketemu donk kalo satu sekolah.
Saat upacara bendera, waktu itu kelas dia yang menjadi petugas. Ia jadi pembaca do’a. Ku pikir biasa saja seperti petugas-petugas lainnya. Namun ternyata tidak, suaranya merdu kali. Ia fasih dalam melafazkan doa-doa itu. Aku makin kagum dengannya, manis, tinggi, pintar, dan alim.
Waktu terus berlalu, aku dan dia menjadi lebih dekat karena setiap hari bertemu di sekolah dan sorenya bertemu di tempat les. Makin bersemangat untuk les saat itu. Hahaha…
Saat kelas X itu aku sering bercerita tentang perasaanku pada teman sebangkuku.. namanya Remipa. Ia berucap “ku doakan nanti kelas 2 kalian satu kelas”. Waw… itu pun menjadi kenyataan, aku dan dia berada satu kelas saat kelas 2. (apa ini takdirNya? Pikirku senang).
Tapi,,, dibalik kesenangan itu ada juga keresahan, bukan hanya dengan dia, namun teman sekelasku adalah juara-juara dari kelas lain. Aku pesimis apa bisa mempertahankan prestasiku.
Hari demi hari terlewati, ternyata biasa saja sekelas dengan dia. Aku menjadi lebih kaku dalam bersikap (padahal semestinya biasa saja toh dia juga tidak tahu), aku menjadi lebih tertutup. Satu per satu kejelekannya yang terlihat dimataku. Namun anehnya aku masih saja memikirkannya.
Kenaikan kelas 3 aku berdoa agar tak lagi sekelas dengan dia. Yupz,, kami pun terpisah, namun terpisah itu malah bikin lebih dekat dari kelas 2 itu. Aneh… makin aneh. Makin terpelihara saja perasaan itu, padahal aku ingin membuang perasaan itu sejak aku tahu ia ada hati dengan teman sekelasnya waktu kelas X dan terus sampai kelas 3 itu. Yah,., aku merasa ingin tahu diri. Aku pun mulai berubah dan dingin setiap bercakap dengan dia. Dia makin jahil membuat aku tertawa. Aku pasrah dan membiarkan perasaan itu hilang bersama waktu. Namun saat ulang tahunnya di desember 2008 itu aku memberanikan diri memberikannya kado ulang tahun. Aneh pasti menurutnya kenapa tiba-tiba memberi ia kado. Aku membiarkan ia berpikir macam-macam hingga kini….
Kami pun menyelesaikan pendidikan menengah kami dan berlanjut di perguruan tinggi masing-masing. Aku melanjutkan ke universitas negeri di kota Palembang ini dan ia melanjutkan studi dengan merantau ke Jakarta, ke salah satu sekolah tinggi yang difavoritkan. Yah…. Anak pintar memang…
Akhir-akhir ini aku sering mengirim pesan singkat “berisi kata-kata mutiara” kepada beberapa kontak di hpku. Termasuklah ia.. aku mengirimkan pesan dari nomor tidak diketahui umum. Sampai suatu ketika.. ia membalas smsku itu. “ini siapa y?”. dan tak ku balas karena ku anggap untuk apa ia tahu siapa pengirimnya, toh pengirimnya tidak menuntut balasan. Tapi beberapa saat kemudian ia sms lagi, kurang lebih ia berkata “percuma isi smsnya baik-baik tapi pengirimnya pengecut”. Waw… aku sangat kaget ia seorang yang ku kagumi bisa berkata seperti itu. Akhirnya aku pun membalas, “Ya maaf, ini RIZKY OKTARIANA (nama lengkapku)”. Ku kira masalahnya selesai dan cukup sampai disitu sampai aku tahu perteman kami di facebook sudah tak ada lagi. Facebook ku di blok oleh nya. (dalam hatiku bertanya, benarkah yang kulihat ini? Sebesar apa salah ku pada dirinya?)
Ah,, cinta monyet yang masih terjaga sampai saat ini. Walau aku tahu, tak kan mungkin! Yang ku mau saat ini hanya hubungan silaturahmi yang baik dengan dirinya. Bukan seperti yang ada saat ini….
Langganan:
Postingan (Atom)
