Tampilkan postingan dengan label Just Share. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Just Share. Tampilkan semua postingan

Selasa, 14 Februari 2012

Radio dan Kenangan

".. lewat radio, aku sampaikan kerinduan yang lama terpendam"

"radio" ya.. radio. Kangen juga dengan benda satu ini. Benda yang sangat setia menemani saat SMA ku dulu. Saat-saat masih ABG (*baca abege). Duduk manis mendengarkan celotehan sang penyiar atau paling rajin kirim atensi buat seseorang. Upz ketahuan deh.

yah, masa SMA sering ku isi dengan mendengarkan radio. Terlebih untuk "meng-update" lagu-lagu baru biar tidak ketinggalan berita dari kawan-kawan lainnya. Dulu sih facebook dan semacamnya itu masih belum merajalela seperti saat ini. Internet pun masih barang yang sangat asing untuk kami.

Saluran yang paling sering ku dengar saat itu seperti Elita FM, Oz radio, Momea FM, SPI, dan aku juga penggemarnya Lanugraha FM. Di Elita, setiap hari pukul 15.00 sampai 16.00 adalah waktunya diputerin lagu-lagu yang lagi hits. Itu paling deh kalo ketinggalan. Kalo di Momea, OZ, dan SPI aku lebih sering untuk "meng-update" lagu-lagu mancanegara yang lagi "in". ah ketauan gaulku waktu itu semuanya berkat radio. Nah salah satu acara yang paling ku tunggu waktu itu adalah saat malam minggu. Apa ya nama acaranya? lupa sih jelasnya apa, tapi acaranya itu semacam ajang buat cari temen. Setelah ku pikir-pikir sekarang, alangkah tidak jelasnya acara itu. Tapi setidaknya cukuplah buat seneng-senengan. Di acara itu orang akan nyebutin siapa namanya, no HP nya, ciri-cirinya (pasti banyak yang bo'ong), dan sebagainya deh biar orang tertarik untuk kenalan dengan mereka. Dulu suka banget iseng, aku catetin no Hp mereka-mereka itu, terus ku misscall misscall-in gak jelas gitu. Hahahah.. lucu deh, itu iseng apa iseng.
satu lagi, ada acara yang suka kirim atensi sekalian request lagu kesukaan.. nah disitu aku sering banget sms. Yah tidak pakai nama asli sih, tapi sering banget kirim buat seseorang padahal aku tau banget si orang yang ku kirim atensi gak pernah dengerin radio seperti yang biasa aku lakukan itu. sekali lagi kirim atensi itu tidak lebih dari seru-seruan. Seru-seruan sms kita di baca oleh para penyiar.

Radio untukku dulu bukan hanya sebagai hal seru-seruan dan sebagai sumber "update"nya aku, tapi juga sebagai sumber semangat. Kok bisa? ya. gitulah, dulu seringkali belajar sambil denger radio. Semangat aja tuh belajarnya, nggak ada merasa terganggu. maklum dulu HP ku itu masih HP biasa yang belum bisa MP3-an. jadi untuk denger musik yah bermodalkan radio itu saja. Kalo sekarang lambat laun radio ku tergeletak saja di bawah meja. tak terjamah, karena mulai tersingkir dengan adanya lepi dan Hp yang semakin canggih. Ntah karena apa, tiba-tiba tergerak saja hati ini untuk mendengar radio lagi. walau tak sesering dulu, tapi ku coba untuk mencari-cari saluran kesukaan aku waktu dulu. Seketika kenangan-kenangan SMA itu muncul lagi. senyum senyum sendiri jadinya... ^__^

Minggu, 11 Desember 2011

PPLku berakhir lalu terbitlah Rindu

Dua setengah bulan PPL yang ku rasa sangatlah lama di awal akhirnya berlalu sudah. Kemarin, tanggal 5 Desember 2011, perpisahan digelar. Walau dengan konsepan acara yang serba dadakan, Alhamdulillah berjalan dengan lancar.



3 Desember, harusnya itulah tanggal perpisahan itu. Tapi karena kepsek dan dosen pembimbing kami berhalangan hadir. So semua itu di undur.

Di awal PPL kemarin, hari demi hari terasa amat berat. Mengkondisikan badan terhadap tingkah laku siswa-siswi yang memegalkan hati juga mengkondisikan badan untuk pergi pagi berjuang mulai dari naik ojek, spot jantung naik bis bukit, dan geram dengan lamanya si mobil lemabang *ngetem*. Semua pengkondisian itu perlu perjuangan yang besar.

Sering rasanya ingin merajuk dengan mereka karena tingkahnya yang membuat aku malas untuk berkoar-koar di depan kelas membagi ilmuku yang memang wajib dibagi. Dan ya.. akhirnya aku mulai sering marah-marah dengan ocehan-ocehan yang masuk telinga kanan dan keluar di telinga kiri mereka. Namun tingkah mereka ada juga yang “so sweet”, saat diriku sakit dan tugasku digantikan oleh partner ku, mereka menunjukkan perhatiannya kepada diriku.

“Bu, sakit ya bu? Jangan lupa minum obat bu!”

Saat diriku mengajar dan tiba-tiba terhenti karena batuk mereka langsung diam dan berkata pada yang masih ribut, “ibu Ana itu lagi sakit, diamlah sedikit.”

Senang rasanya walau hanya diperlakukan begitu. Tapi tahukah kalian nak, itu menjadi spirit untuk Ibu yang hampir tak mau menjadi guru ini.

Tak sedikit juga dari mereka yang jahil lalu ku tegur dan diam. Walau hanya diam sesaat kemudian kembali jahil. Capek juga rasanya tapi.. skali lagi tak bosan untuk di ulang-ulang-dan di ulang lagi untuk menegur mereka. Tak heran sebagian dari mereka suka bilang aku ini sering sekali marah.
Sekarang rasanya itulah seninya menjadi guru, apalagi guru bagi anak-anak SMP yang benar-benar baru gede, antara kekanakan dan sok dewasa.

Namun disaat semua sudah terkondisikan dengan baik, kakiku sudah menginjak gerbang perpisahan. Ah tak rela sebenarnya berpisah dengan kalian nak.

Ibu rindu kalian…

Ah si Ridho, dengan ciri khas tertawanya yang masih terngiang-ngiang. Tentunya dengan tangan yang menutupi mulut saat tertawa. Dan baru berpacaran dengan teman sekelasnya sendiri, Adel. Kalian masih kecil nak,, jangan buang waktu kalian untuk hal yang seperti itu. Belum waktunya.. tapi apa mau dikata, itu sudah jadi *trend* bagi mereka saat ini. “bu, doakan aku dan adel langgeng y bu.” Haduuh apalah si Ridho ini.

Si Jefri, yang mengagetkan aku saat tahu ia adalah bagian dari kelas yang ku pegang. Ku kira ia penghuni dari VIII.6. Terkaget-kaget sampai tak percaya kok bisa ia pindah-pindah kelas begitu saja. Perawakannya yang seram dengan tingkahnya yang diam-diam menghanyutkan buat aku ngeri untuk menegurnya saat ia malas mengerjakan segala hal. (ntahlah,, jangan ditiru y utk guru2 yang lain). Buang jauh-jauh nak sifat pemalasmu…

Si Fajar yang cengennya minta ampun, tapi jahil juga.. Kalo jahil jangan mudah nangis dan tersinggung y nak.. Tetep tegar!!!

Si Washington yang namanya aneh, si Isfan yang manis kalo senyum.. kalo ketawa keliatan giginya ada yang ilang.. Si M. Dwi aji yang lumayan jail , si Bima yang diem-diem menghanyutkan, Si Ari Yanto yang menurutku paling pinter di antara siswa-siswa di kelas itu, dan si Riko wakil Ketua Osis yang badannya kecil, berkawat gigi dan bersepatu tali hijau. Hahaha…

Si Tivalen yang manis banget kalo menurut aku,, Cempaka yang manja dan panikan. Esti yang rajin dan banyak bertanya, si Melinda ketua kelas yang cantik dan tak bosan setiap hari bilang “bu, jangan lupa ttd”. Si Adel yang muanja, Herliza yang rajin I think, 4 sekawan yang duduk di pojok yang sering banget kena marah oleh saya.. hhiii…

Si siapa lagi ya?? Tak habis rasanya kalo diceritakan satu-satu..
Bukan maksudku untuk terus-terusan marah, tapi mereka yang tak bisa dibilangin sekali saja. Selalu mengulang dan mengulang lagi. Itulah kelas VIII.8

Kelas VIII.7, kelasnya Ibu Hamdah, Guru pamongku tercinta…
Walau hanya beberapa kali pertemuan saja dengan mereka.. sayang juga dengan mereka..
Si agung lamongga yang mau belajar, Si Wirandi yang kena hukum Ibu Nindya saat aku ngajar, Posma si Bontet non Islam yang males banget belajar, Si Teza yang salah ku panggil dengan Tejo. Si Ketua Kelas yang masih nurut kalo dibilangin, Si Tinggi Siti ayu, 3 sekawan itu,… Si Galuh, Falin, Tity, ah siapa lagi nama mereka y… tak terlalu hafal nama-nama mereka namun yakinlah wajah kalian sudah terpatri di kenangan indah yang akan ibu simpan di hati ibu. Hahaha.. So Sweet.

Kelas VIII.9, kelas yang dipegang Uni Leni, partnerku..
Hampir tak pernah aku benar-benar mengajar dikelas ini. Karena memang ini bukan kelas ku. Namun hampir di setiap pelajaran matematika aku menemani leni untuk mengajar. Walau hanya sekedar duduk sambil mengerjakan sesuatu ataupun berkeliling mengamati mereka.. Tapi malah sebuah kejutan mereka berikan kepada kami berdua.. Ya, di saat pertemuan terakhir.. Mereka memberikan kami kenang-kenangan hasil mereka ngumpulin uang. Uni Leni diberi boneka domba dan aku diberikan boneka hati. Ah.. terharu. Seumur-umur waktu aku masih jadi siswa,, aku tak pernah memberikan kenang-kenangan untuk guru PPL. Sumbringah kamipun belum sampai disitu.. Ada pula yang memberikan boneka teddy bear pink atas nama sendiri dan juga ada yang memberikan jilbab.. ah kalian ini seharusnya tak perlu seperti itu.. kami kan jadi terharu..

Kalian begitu mengangenkan y sekarang.. ibu kangen loh untuk memarahi kalian.. di salami oleh kalian.. di beri salam dan di sapa oleh kalian., sekarang sudah tidak ada lagi hal-hal yang seperti itu

Beberapa hari ini semuanya masih terobati saat aku mesti bolak-balik SMP N 4 untuk menyelesaikan laporan. Aku bertemu mereka.. Di peluk mereka.. dekat dengan mereka.. ada kebahagiaan tersendiri deh pokoknya.

Hal yang membuat aku kangen adalah kalian teman-teman PPLku. Kalian berbeda.. kalian seperti kawan-kawan sekolahku dulu, bukan seperti kawan-kawan kampusku. Aku rindu dan nyaman bergaul dengan kawan-kawan yang seperti itu. Yang blak-blakkan, yang tidak ja’im, yang bener-bener bikin nyaman.. ah makin membuncah rindu ini..

Akhirnya PPL ini berakhir dan terbitlah rindu. Kerinduanku pada mereka, siswa, suasana, dan kawan-kawan PPL lainnya.

Smoga kita bertemu lagi di lain kesempatan yang lebih indah ya semuanya…
Bertemu siswa-siswi ketika mereka sudah sukses.. Bertemu dengan kawan-kawan PPL di Audit (wisuda) aamiin. Kecup basah untuk kalian.. muuuuuuuuuuuaaaaaaaaaaaachhhh.. :* :*

Rabu, 03 Agustus 2011

Anak Kecil Berbaju Gonzales

hei, udah lama nih nggak ngeblog.
ntah knp si ide ni pada kabur semua, males tu makanya si ide jadi kabur. :D
tapi kali nih dicoba lagi deh untuk berbagi lagi di sini.

heeem, gak terasa nih udah masuk di bulan Ramadhan. Ini hari ketiga menjalankan ibadah puasa. Seperti yang kita ketahui dan kita jalani setiap malamnya di bulan Ramadhan. Itu tuh sholat sunnah yang dilakuin berjama'ah di masjid sesudah berbuka puasa.
yupzz, tarawih. Pinter banget sih kamu. *unyu unyu.. #lebay.




trus apa donk yang mau diceritain nih?
semalam, Ana tarawih seperti biasa di masjid Ar-Rahman.
dengan sigap setelah sholat magribh, Ana dan keluarga berbondong-bondong ke masjid. hoho.. alahhh berbondong-bondong *bahasanyee. Dengan sigap Ana ngambil di posisi shaf paling depan. Malam ini masjid terisi penuh, shaf ikhwan udah sampe belakang, shat akhwat juga udah sampe belakang, walau masih ada dikit-dikit yang masih belum terisi. Dan seperti biasa pula, kebanyakan jama'ah masjid itu adalah anak-anak dan para orang tua yang bisa di bilang sih udah berumur. Lho kemana si para remaja? ada sih tapi sedikit banget.
Kemana mereka?
adu duh, lagi pada "libur" semua kali y? eh kalo remaja cowok? meliburkan diri sepertinya. Gimana sih, kok kalah sama anak-anak.

salah satu yang menarik perhatian saya adalah satu anak berbaju pesepak bola Gonzales tapi celananya piyama tidur. #nggak mecing adek. hehe...
Awalnya gak ada yang aneh sih dari adek itu.



Saat sebelum adzan isya' dikumandangkan ia masih bermain-main dengan teman sebayanya, kemudian sholat isya berjama'ah.. Nah ketika kultum, si adek berbaju gonzales itu mulai tertidur sambil duduk. kebetulan ia duduk di shaf paling belakang. sehingga ia bisa menyender di hijab. kasian si adek, ky'ny capek bener. tidurnya nyenyak sekali. Dibangunin temennya tapi ttp tidurr dengan posisi duduk.. zzztt.. alhasil sepanjang kultum, sholat tarawih ia hanya tertidur. *gak patut dicontoh sih, tapi namanya juga anak-anak. masih belum mengerti.

nah,, anak kecil saja bersemangat banget pergi ke masjid untuk sholat berjama'ah. walau akhirnya mereka banyak mainnya. yang penting niatnya donk! kalah nih si remaja. yang niat aja udah nggak punya.

hm.. ayo donk para remaja Islam Indonesia. Ibadah ini pahalanya untuk kita kok! Rugi loh, apalagi Ramadhan ini pahalanya guede loh!
^__^

Rabu, 16 Februari 2011

Rekaman itu...

ana_mahebe231090

Hm,, saat ini sedang berada di perpustakaan daerah palembang.
Sendirian, bukan tak ada manusia lain disekitar ku namun tak ada satu raut wajah pun yang aku kenal. Sementara yang lainnya berpasang-pasangan. Berpasangan-pasangan bersama rekan mereka. Sedang aku duduk sendirian menari-narikan jari-jari di atas notebook ini. Sebenarnya entah apa yang akan ku tulis dan ku cari di internet ini. Tak begitu ada tujuan.

Pagi tadi ana tak sendirian masih ada Cemi dan Akang yang mengerjakan tugas penelitian mereka. Seharusnya jika urusanku selesai di pusda, ana hendak ke ps. namun berat rasanya untuk beranjak dari kursi yang tak begitu empuk ini.Mungkin karena ana merasa sendiri dan memang ingin menghabiskan waktu sendiri.

Di saat sendiri ini, Ana mulai menapaki jejak-jejak lampau. Apa yang sudah ku lakukan satu tahun belakangan ini. Sungguh begitu berwarna-warni, lengkap dari warna pink hingga hitam. Dari yang rasanya hidup penuh arti hingga merasakan kehampaan.

Sebenarnya Ana sedikit malas untuk kembali mengingat semua kejadian itu. Namun, ketika sendiri semua seperti memang ter"setel" otomatis untuk memutarnya kembali.

Untuk semuanya yang hadir dalam rekaman itu. Terima kasih, karena kalianlah Ana menemukan arti kehidupan dan satu hal lagi, jangan berharap kepada manusia namun berharaplah kepada Allah. 

untuk seseorang, aku tak membencimu namun berikanlah waktu untukku kembali menata sesuatu yang sudah terpartisi ini. Allah Maha Pema'af, betapa malunya aku jika tak bisa mema'afkan!

Terima kasih untuk November - Oktober yang penuh warna. 

Senin, 14 Februari 2011

Cerita Aneh HIMMAers 08 "Sang Imam dan Yeti pun Menjerit" @Lampung Geh


Sang Imam dan Yeti pun Menjerit

Ini kelanjutan kisah “aneh” HIMMAers 08 @Lampung Geh!
Seperti yang diceritakan pada blog sebelumnya, bagi yang belum baca ni baca dulu..


Cerita awalnya nih, kereta kami sangat-sangat telaaaaaat nyampe di Lampung. Kereta yang seharusnya tiba di Stasiun (?? Stasiun apa y?? *Lupa… ) kira-kira pukul 7 malam eh malah mangkir sampe 3 setengah jam, kira-kira pukul 10 malam.

Ckckck. Bisa dibayangkan betapa “pegell”nya badan kami yang hampir 14 jam berada dikereta kelas ekonomi yang panas dan sesak oleh lalu lalang penjual, dari penjual kipas sampe penjual mie mie p*p mie tak henti-henti hingga stasiun di Lampung (sampe akhirnya ini slogan mie mie p*p mie selalu dikaitkan dengan Makwo MIMI) . Kami juga sedikit terhibur dengan hadirnya para pengamen kereta yang notabene sepengelihatan Ana juga penumpang dari kereta itu. Ntahlah, apa memang mereka penumpang atau memang profesi mereka sebagai pengamen kereta. Satu per satu pengamen datang dan melantunkan lagu-lagu handalan mereka. Kami pun bak para juri program pencarian bakat selalu setia memberikan komentar-komentar di setiap penampilan pengamen. Jika si pengamen melantunkan lagu-lagu yang membius hati maka kami akan ikut bernyanyi dan berasa gerbong itu special utk kami. Namun, ketika si pengamen menlantunkan lagu yang tak sesuai hati, kami memilih diam dan mendengarkan lagu dari Hp kami sendiri. Dari sekian banyak pengamen yang datang menghibur kami, hanya satu yang paling berkesan. Kak Andra, yah salah satu anggota pengamen yang aksinya “lumayan bagus” menghibur kami yang sangat suntuk di dalam kereta. (ini kisahnya si Nong dan Usuk)

Eh, melenceng jauh amat yak dari judul. Balik lagi dah,  sesuai judul “Sang Imam dan Yeti pun Menjerit”. Sengaja memberikan aksen “sang Imam” pada judul tersebut karena selama kami di Asrama Haji (Tempat penginapan kami selama liburan) hanya Mak Wo Mimi lah yang setia menjadi Imam bagi temen-temen cewek lainnya. Tanya kenapa?? *gak tau juga kenapa!!*

Malam pertama (cieee) kami tiba di penginapan pukul setengah sebelas malam dengan kondisi badan yang teramat sangat lelah. Terlihat jelas di kusutnya muka saat tiba di penginapan. Dengan sigap dan cepat kami menentukan kasur masing-masing untuk segera beristirahat. Semua tepat mendapatkan masing-masing satu kasur, kecuali Ayu dan Tiwul. Kebetulan Mak Wo Mimi, sang Imam mendapatkan kasur yang berdekatan dengan “colokan”. Posisi yang strategiss..  Cerita belum selesai, karena posisi yang strategis inilah awal mula cerita.

Disaat teman-teman yang lain sudah mulai terlelap di kasur masing-masing,  Ana masih asyik bertelponan dengan seorang, sehingga masih bisa mendengarkan secara langsung kejadian Aneh itu. Hening, sangat hening, Ana pun berbicara dengan berbisik-bisik pada seseorang di ujung telepon itu, Namun tiba-tiba..

“AAAAAAAAAAAAA…!!!!”
Ada seseorang yang berteriak. Otomatis teman-teman yang sudah terlelap harus membuka mata dan bertanya siapa dan ada apa??

Ternyata, tak lain dan tak bukan yang menjerit itu adalah sang Imam., Mak Wo. Ada apa gerangan??
Makwo yang hampir terlelap ternyata tersenggol kakinya oleh seseorang. Dikarenakan kami baru semalam menginap di kamar itu sehingga masih ada rasa ketakutan. Mak Wo yang notabene sudah tuo mengira “siapa” yang menyenggol kakinya membuka mata dan melihat sesosok wanita berada tepat di depan kasurnya. Dengan sangat lantang, makwo menjeriiit.

Siapa kah gerangan sosok wanita itu? Ialah nong, si Uget-uget yang sedang mencoba mengecas Hp yang sudah lowbat di satu-satunya colokan yang berfungsi di kamar itu yang tepat berada didepan kasur sang Imam.

Ckckc.. ternyata sang Imam pun bisa menjerit sekencanng itu.

Lah kok? Yeti nya mana???
Ini lain lagi ceritanya.
Entah kenapa menjerit sepertinya sedang trend saat kami di penginapan.
Waktu itu, Ana, Yeti, Mbu, Try dan entah siapa lagi (*lupa.. ) sedang mengantri mandi di kamar mandi yang lumayan besar dan terdiri dari 3 kamar mandi disebelah kiri dan 3 kamar mandi di sebelah kanan. Hanya Yeti yang belum mendapat kamar mandi, sedangkan Ana hanya berkepentingan untuk sikat gigi. Posisinya saat itu, Ana akan menyikat gigi di salah satu kamar mandi dan Yeti berada tepat di depan pintu kamar mandi Ana. Sengaja tak di tutup karena hanya sebentar. Saat hendak menyikat gigi, tiba-tiba terdengar suara ketukan jendela kaca tepat berada di belakang Yeti yang sedang berdiri. Awalnya Yeti tak menunjukkan sesuatu yang aneh, Ia pun mengintip ke sumber suara yang kebetulan berlubang.T Tak sampai satu detik, Ia berteriak sangat kencang “AAAAAAAAAAAAAAAAAAAA” berlari terbirit-birit ke dalam kamar mandi di sebelah kanan tempat Mpu, Try berada yang sedang sikat gigi juga. Melihat Yeti yang panic dan ketakutan berlari. Ana pun ikut berlari. Padahal tak tahu apa penyebabnya. Bener-bener lucu mungkin wajah yeti dan Ana saat itu. Dengan tangan yang bergetar, Ana pun bertanya pada Yeti.
 “Ngpo Yet?? Ado apo?”

“Tadi ad yang ngetuk, yeti intip, pas di liat dak ad orangnya” suaranya terdengar bergetar.

Kami terdiaaam semua…
Tak lama kemudian Gea masuk ke kamar mandi, melihat kami yang kebingungan, ia bertanya ;
“Ngapo? Siapo yang beteriak?”

Yeti mengatakan hal yang serupa lagi.

“heehee.. Itu tu aku tadi. Tadi lewatt disitu waktu mau ngambil jemuran. Karna aku tau itu kamar mandi dan terlihat pakaian tidur kepunyaan Yeti, jadi ku ketuk. Eh, maalah nyerit Yetinyo.” Jelas Gea dengan muka agak sedikit tak bersalah.



Hahahaha.. yang tadinya terdiam berubah menjadi ketawa terbahak-bahak!

sungguh aneh sang imam dan yeti yang bisa sangat lepas MENJERIT di Asrama Haji  Bandar Lampung


Cerita Aneh HIMMAers 08 "PELUPA PARAH" @Lampung Geh

Ini sepenggal cerita cukup "aneh" bagi Ana saat melewati liburan bersama teman-teman HIMMAers 08 di Kota Lampung.

Rabu, 12 Januari 2011
Di Stasiun Kereta Kertapati Palembang

Ana dan Mbu datang "ngedek-ngedek" dengan tas yang sangat penuh memasuki stasiun kereta api kertapati Palembang. Disana telah menunggu Nong, Pu, dan Keydhan. Awalnya Ana sedikit malu pada teman-teman karena dengan badan Ana yang kecil ini, namun "bawa'an" dalam tas kok padet banget. Ternyata eh ternyata, diluar dugaan. Fakta membuktikan lain.

Keydhan alias Dhanu membawa 3 TAS!!
(1 Tas Ransel, 1 Tas Jinjing, dan 1 kantong lumayan besar)

*dalam hatiku berkata, waduh ni cowok kok banyakan barang dia daripada cewek sih?? (peace dhan!)


Lanjuuut..

Setelah mendapatkan tiket yang dibeli oleh perwakilan si cowok sendirian waktu itu, Dhanu.
Kami berempat pun beranjak mencari gerbong yang akan membawa kami liburan. Namun, kami harus menunggu, kereta belum ada di tempat.

menunggu kereta juga menunggu teman-teman yang lainnya.

kereta datang namun teman-teman yang lain belum tiba juga.
Kami pun berinisiatif untuk memasuki gerbong lebih dahulu.
Dengan sedikit kebingungan, akhirnya kami menemukan posisi duduk sesuai tiket yang kami miliki. Tapi, dari 16 posisi duduk, 3 posisi duduk belum kami temukan. Setelah melihat lebih teliti nomer-nomer yang tertera pada dinding kereta terlihat nomor H11 H12 dan H13. Lho, kok kenapa ada orangnya?? kami bingung.

Lagi-lagi Dhanu yang merupakan SATU-SATUNYA LELAKI YANG KAMI MILIKI, kami (si para cewek) paksa untuk mengatakan kepada bapak-bapak berperawakan seram itu bahwa posisi duduk itu adalah posisi duduk kami.
Ternyata, omongan Dhanu tak berarti, si Bapak-Bapak tak kunjung beranjak dari bangku itu.

Kebingungan..
Pu pun berkata "Sudah, nunggu temen-temen Layo dateng b dulu!"

kami pun mengambil posisi masing-masing dengan 3 kursi tadi masih ditempati 3 bapak-bapak berperawakan seram itu.

Disini keanehan belum terlihat, semuanya masih berjalan dengan sangat ceria dan tawa. Sampai akhirnya rombongan besan dateng, eh rombongan Indralaya maksudnya.

Saat anak-anak Indralaya mau melihat tiket yang sudah dibeli. Keanehan mulai terjadi. Pu, yang tadinya memegang tiket tiba-tiba kebingungan. Dengan wajahnya yang mulai panik ia mencari kedalam tas, saku celana, kursi, namun tak kunjung ditemukan tiket yang tadi di beli. Yaiyalah tidak ketemu, tiketnya tadi sudah berpindah tangan kepada Ana. (hehehe..)

*Disini terbuka satu kartu, TERNYATA si Pu itu punya penyakit PELUPA yang cukup akut. heee... #peace pu sayang

Keanehan belum cukup sampai disitu, Setelah tiket ketemu, tiket dibagikan ke teman-teman Indralaya. Tapi karena sesuatu hal, kami memutuskan untuk menyimpannya kembali pada satu orang. Kini tiket ada di tangan Ana lagi. Tanpa banyak periksa sana-sini, Ana langsung menyimpan segulungan tiket kedalam saku celana jeans Ana.
Kami baru sadar kalau bapak-bapak seram yang duduk dibangku kami masih saja tak beranjak. Tiwi pun menyuruh yang paling tua saat itu, KUYUNG ASPAL untuk berbicara baik-baik sambil menunjukkan tiket kami kepada bapak-bapak itu. Dengan sigat Ana bergegas merogoh saku celana mengambil tiket H11, H12, H13. Lho??? Kok nggak ada?? Kemana?

Panik muka Ana, cari sana-sini, liat ke dalam tas, jaket, berdiri kali aja tertindih saat duduk, di lantai kereta kali aja jatuh,  tapi,,, nihil. Bukan Cuma Ana yang panik, Ika, Nong, Pu Tiwi, juga Busuk ikut panik. Yang lebih parahnya lagi, kami bersu’udzon kepada bapak-bapak itu kalau mereka yang mengambil tiketnya diam-diam. Setelah semua merasa “terpucat” si Gea dari kursi seberang bertanya, “kalian tu ngapoi? Nyari apo?”
“tiket” jawab kami masih panic dan mencari-cari.
“tiket? Tiket ini??” kata Gea sambil menunjukkan sebuah tiket H11, H12, H13.
“lah.. ngomong dari tadi Ge.” Jawab Ana.
“Mano aku tau Na.. :) Tadi kan Tiwi ngasih ke aku, jadi yo aku simpen bae.” Jelas Gea.

Hahaha.. Satu lagi ternyata bukti kalo si Pu Tiwi dan Ana Mahebe itu pelupanya lumayan PARAH.
Haaa.. :D



Minggu, 13 Februari 2011

Males-Malesan is GATOT

HUa... tidak terasa hari ini merupakan hari terakhir liburan semester Ganjil. Mulai besok WELCOME SEMESTER 6 (Waw Semester 6?? Udah tua banget yak! Di kampus berarti udah punya 2 adik tingkat).

Ana beranggapan kalo hari ini hari terakhir liburan, so Hari ini adalah HARI BERMALAS-MALASAN NASIONAL. Karena besok-besok udah bakal disibukin dengan segudang aktivitas (cak kesibu'an). hahaa..

Contohnya aja nih, pagi ini bangun jam setengah 7 pagi. (maklum lagi kedatengan bulan nih, jadinya bertambah siang bangunnya)*gak patut ditiru*

Ehm pas masih bermalas-malasan diatas tempat tidur, diteriakin dari luar kamar
"banguuun, semua mau pergi! Mami masih tidur, Ana tutup pager!! Beresin rumah."
Hadoh, dengan langkah yang masih gontai Ana pun nutupin pager dulu.

Setelah itu apakah Ana langsung beresin rumah?? oh,, tentu tidak! (hhaa)
Ana malah kembali ke tempat tidur dan sibuk memainkan hp_nya.
*ckckck* masih beranggapan hari ini hari BERMALAS-MALASAN NASIONAL.

But kesantaian itu seketika sirna, saat telepon rumah berdering.
Mami yang kebetulan sudah bangun yang menerima telepon.

"hm.. ya ya ya.. Uni kerumah b hari ini. Diaturi!" terdengar perkataan mami menjawab orang yang diseberang telepon.

Setelah gagang telepon di tutup, mami berteriak,
"Ana... Ana... Beresilah rumah Na, Nyapu, Ngepel, maenan Iboy (adek) berserakan galo. Ado yang mau dateng, Dak enak rumah berantakan kaya' ini!" teriak Mami memenuhi rumah ini.

"haduuuh, kalo gini ceritanya gatot nih acara HARI BERMALAS-MALASAN SEDUNIA"

Mau tak Mau (*tentunya harus ikhlas) Ana mengayunkan sapu, beres sana-sini, menyeret-nyeret pel, and bla, bla, bla..

tereeeng *KINCLONG DEH RUMAH* kalo di film-film itu ada kilau-kilaunya hasil kerjanya Ana.

Eh,, ternyata eh ternyata, setelah di tunggu-tunggu, orang yang tadi nelepon malah gak dateng-dateng.

fuihhhh.. memang gak bisa liat Ana males-malesan dikit deh ini!
 

Sabtu, 05 Februari 2011

Miris Hatiku

Malam tadi , seperti biasa aku menunggu acara favoritku di setiap jum’at malam. “Kick Andy”, yah suatu acara yang selalu bisa member hikmah dan motivasi tersendiri bagiku. Tema yang diangkat semalam mengenai “pergaulan bebas”.  Selama acara itu berlangsung, begitu banyak istigfar yang terucap dari bibirku. Itu tak lain karena cerita-cerita pengakuan dari pekerja seks komersial baik perempuan juga laki-laki. Aku tersentak melihat persentase yang sangat tinggi di 5 kota-kota besar mengenai pergaulan bebas di kalangan remaja itu (SMA dan SMP). Miris sekali rasanya hati ini mendapati kenyataan bahwa banyak sekali diluar sana yang sudah tak perawan lagi bahkan pernah melakukan aborsi. Miris, miris sekali rasanya.

Satu hal lagi yang membuat aku terhenyak ternyata bukan pula anak SMP dan SMA yang penuh otak mereka dengan hal-hal “porno” tapi anak kelas 1 SD pun. MasyaAllah.  Tak terbayangkan oleh ku bagaimana nasib bangsa ini jikalau ini dibiarkan. Setiap tahun, mungkin bahkan disetiap harinya akan bertambah persentase itu. 

Siapa yang salah sebenarnya disini??? Orang Tua? Lingkungan?? Atau Guru??? 

Entahlah, tak perlu mencari siapa yang salah, namun pikirkan bagaimana ini?? Bukankah ini suatu masalah yang besar. Menurut ku masalah ini malah jauh lebih besar dari masalah pornoaksi dikalangan artis. Hal ini lah yang seharusnya menjadi satu pusat perhatian bila ingin bangsa ini tak “bobrok” dimasa yang akan datang. 

Suatu hikmah lagi yang ku petik. Ku harus bisa menjadi panutan yang baik bagi adik-adikku, teman-temanku, keluargaku, anak-anak didikku nanti, serta anak-anakku kelak. Akan ku mulai dengan diri sendiri. Karena bagaimana pun aku akan menjadi orang tua, teman, serta guru bagi generasi penerus bangsa yang akan datang. 

05 Februari 2011, 15.30 WIB

Ana Mahebe

Jumat, 04 Februari 2011

Anak Kecil Aja Pernah



Ada yang tahu, gambar diatas itu gambar apa?? Ayoo.. ayoo..

Yupz, bener sekali. Itu Perpustakaan Daerah Sumatera Selatan.

Hari ini saya untuk pertama kalinya mengunjungi perpustakaan daerah di tahun 2011 ini. Perpusda ini tak begitu jauh dari rumahku, kira-kira 15 menit lah naik angkot kuning. Di tengah perjalanan di dalam angkot menuju perpusda atau lebih singkat lagi pusda itu, angkot di hentikan oleh sekelompok anak TK yang tentunya juga bersama orang tua dan gurunya. Hm.. dalam hati kecil bertanya. Mau kemana mereka??? Pertanyaan itu tak sengaja terjawab ketika salah satu orang tua ntah guru atau orang tua murid berkata pada sang supir angkot, “ke pusda sinilah mang! Dekett sinilah”. Wah, sebuah senyuman mengembang diwajahku.  “ah, ternyata tujuan mereka sama denganku”. Sepanjang perjalanan itu angkot dipenuhi gelak tawa dan canda gurau anak-anak kecil yang kira-kira berusia 3-5 tahun.  Bahagianya mereka, wajah mereka seperti menggambarkan ketidaksabaran mereka untuk segera sampai. Aku kembali teringat peristiwa beberapa bulan yang lalu, adikku yang baru duduk dikelas 1 SDIT sudah diperkenalkan dengan Perpusda. Begitu semangatnya ia menceritakan padaku. Bercerita beberapa hari lagi mereka akan kesana (waktu itu), saat mereka disana, dan setelah pulang dari sana. Begitu bahagianya cerita adikku saat itu. Mungkin perasaan anak-anak diangkot ini sama dengan perasaan senang adikku kala itu. Subhanallah, semangat mereka menyuntikkan semangat baru bagiku. Mereka saja sejak dini sudah sesemangat ini ke pusda, masa’ aku seorang mahasiswa yang seharusnya gemar membaca malah hanya sesekali ke sana. Ditambah satu hal lagi yang menggelitikku, temen ku tadi berkata “kakak, seumur-umur baru sekali ini na masuk ke sini”. “Whaaat?? Anak kecil aja udah Pernah kak.” Hahahaha. :D